Jumat, Oktober 16, 2015

SOFTSKILL BAHASA INDONESIA

Tugas Softskill Bahasa Indonesia





DISUSUN OLEH :

- NICKI FATIMA N                                                                                 (16113412)

KELAS: 3KA22


1.      Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, terdiri dari kata baik dan benar yang kedua-nya memiliki arti

- Bahasa Yang Baik

     Penggunaan bahasa yang baik (sesuai aspek komunikatif) adalah sesuai dengan sasaran kepada siapa bahasa tersebut disampaikan. Hal ini harus disesuaikan dengan unsur umur, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kit. Dengan kata lain, bahasa yang kita gunakan harus sesuai dengan lawan bicara, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman ketika berkomunikasi.
contoh: Erlin, tadi lo sampe jam berapa?
(Kalimat di atas adalah baik karena ditujukan kepada teman sebaya, tetapi akan menjadi tidak baik apabila kita menujukan kalimat tersebut kepada orang yang lebih tua).

- Bahasa Yang Benar

     Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yaitu peraturan bahasa )tata cara bahasa, pemilihan kata, tanda baca, dan ejaan). Bahasa yang benar mengacu pada kaidah penulisan dan pengucapan Bahasa Indonesia seperti yang tertera pada kamus besar Bahasa Indonesia, dan terdapat pula di EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)
contoh: Adik makan ikan di sekolah
(Kalimat diatas adalah benar karena sesuai dengan EYD dan juga struktur penulisannya

2.           Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar dalam Pendidikan

     Pendidikan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting di dalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang bahasa. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama  bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apabila seorang pendidik menggunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh anak-anak didiknya.

     Dengan demikian fungsi bahasa dapat diartikan  sebagai fungsi untuk menjelaskan suatu informasi atau materi pelajaran yang terkait secara kontekstual. Dan bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa yang dapat memenuhi kebutuhan  akan bahasa yang seragam dalam pendidikan di Indonesia. Adapun itu juga, bahasa Indonesia dalam pemakaiannya telah berkembang pesat dan sudah tersebar luas. Sehingga  pemakaian bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan bukan hanya terbatas pada bahasa pengantar, akan tetapi bahan-bahan ajar juga memakai bahasa Indonesia. Dalam konteks ini bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia.

           3.           Artikel tentang pendidikan



      Kabut asap yang akhir-akhir ini menyelimuti Provinsi Riau, salah satunya yaitu Kabupaten Bengkalis, sepertinya belum terlihat titik cerah. Masyarakat banyak yang menghirup asap, bahkan anak-anak pun turut menjadi korbannya karena terjangkit ISPA.

     Kabut asap tidak hanya menyerang dunia kesehatan tetapi juga mnegganggu pendidikan di Riau karena kegiatan belajar mengajar pun menjadi lumpuh. Dimana, saat ini banyak sekolah yang diliburkan dikarenakan kabut asap. Parahnya Ujian Tengah Semester pun akhirnya diliburkan.

     Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bengkalis kembali meliburkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah karena kabut asap yang semakin pekat. Libur yang diberlakukan Disdik sifatnya situasional, namun pelajar tetap diberikan tugas untuk mengerjakan tugasnya di rumah selama kabut asap masih pekat.




Jumat, Mei 22, 2015

Kesimpulan Materi Kelompok 5 (Budaya, Kreatifitas dan Proses inovasi)

Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2

Disusun Oleh :
1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)
 
 
 
1. Pengertian dan fungsi Budaya Organisasi

Menurut Robbins (2006), definisi budaya organisasi yaitu “Sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain” (h.721). Setiap organisasi merupakan sistem yang khas, sehingga organisasi mempunyai kepribadian dan jati diri sendiri. Oleh karena itu setiap organisasi pasti memiliki budaya yang khas pula.

Jadi pengertian budaya organisasi dapat disimpulkan sebagai nilai-nilai dominan yang disebarluaskan didalam organisasi sebagai filosofi kerja suatu organisasi, sehingga dapat membentuk perilaku anggota organisasi dalam melaksanakan tugasnya.

Fungsi Budaya Organisasi

Menurut Robbins (2006) “….budaya menjalankan sejumlah fungsi didalam organisasi, yaitu:
  1. 1. Budaya mempunyai peran menetapkan tapal batas, artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
  2. 2. Budaya memberikan rasa identitas ke anggota-anggota organisasi.
  3. 3. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri pribadi seseorang.
  4. 4. Budaya meningkatkan kemantapan sistem sosial.
  5. 5. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan.
  6. 6. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan” (h.725).

Peran Budaya Organisasi

Menurut Wirawan (2007), “Peran budaya organisasi terhadap organisasi, anggota organisasi, dan mereka yang berhubungan dengan organisasi, yaitu:
  1. Identitas Organisasi
  2. Menyatukan Organisasi
  3. Reduksi Konflik
  4. Komitmen Kepada Organisasi dan Kelompok
  5. Reduksi Ketidakpastian
  6. Menciptakan Konsistensi
  7. Motivasi
  8. Kinerja Organisasi
  9.  Keselamatan Kerja
  10.  Sumber Keunggulan Kompetitif

2. Tipopologi Budaya Organisasi

Tujuan tipologi ini menunjukkan aneka budaya organisasi yang mungkin ada di realitas. Kajian mengenai tipologi budaya organisasi ini sangat bervariasi. Tipologi budaya organisasi dapat diturunkan dari tipologi organisasi.

1. Organisasi Koersif
adalah organisasi di mana para anggota organisasi harus mematuhi apapun peraturan yang diberlakukan.

2. Organisasi Utilitarian
adalah organisasi di mana para anggota diperlakukan secara adil dalam pekerjaan dan hasil sesuai dengan standart atau ketentuan yang yang disepakati bersama oleh anggota organisasi

3. Organisasi Normatif
adalah organisasi di mana para anggota organisasinya memberikan kontribusi tinggi pada komitmen karena menganggap organisasi adalah sama dengan tujuan diri mereka sendiri.



Kesimpulan kelomopok 3 (Desain dan Struktur Organisasi)

Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2

Disusun Oleh :
1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)

Desain dan Struktur Organisasi



1. Pentingnya Struktur dan Desain Organisasi

     Sebuah struktur dan desain yang efektif harus mampu mengoptimalkan kinerja baik organisasi maupun anggotanya. Hal ini tercapai apabila ada penataan tugas, aktivitas kerja dan individunya menurut cara-cara tertentu agar tujuan tercapai. Sebuah struktur dan desain yang efektif harus mampu menggunakan tipe dan jumlah risorsis dengan tepat (misalnya uang, material, orang) untuk mencapai tujuan.


2. Beberapa Pendekatan Dalam Proses Departementalisasi

            Departementalisasi merupakan proses penentuan bagian bagian dalam organisasi yang akan bebrtanggungjawab dalam melakukan bermacam jenis pekerjaan yang telah dikategorikan berdasarkan faktor-faktor tertentu. Dalam mendesain organisasi, khusunya dalam proses departementalisasi, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan oleh organisasi, yaitu:

    a.Pendekatan Fungsional
Berdasarkan pendekatan ini, proses departementalisasi dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi tertentu yang mesti dijalankan dalam sebuah organisasi.

     b.Pendekatan Produk
Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian dalam organisasi ditentukan berdasarkan jenis produk yang dibuat oleh organisasi.

    c.Pendekatan Pelanggan
Berdasarkan pendekatan ini, penentuan bagian-bagian dalam organisasi ditentukan berdasarkan karateristik pelanggan yang menjadi sasara pelanggan dari organisasi.

    d.Pendekatan Geografis
Penetuan bagian-bagian dalam organisasi ditentukan berdasarkan wilayah geografis di mana organisasi beroperasi.

   e.Pendekatan Matriks
Pendekatan departementalisasi terakhir yang diperkenalkan adalah pendekatan matriks. Pendekatan ini pada dasarnya merupaka n proses departementalisasi yang menggabungkan antara pendekatan fungsional  dengan  pendekatan lain, misalnya berdasarkan proyek tertentu, produk tertentu, ataupun berdasarkan pendekatan lainnya.

3. Model-model desain organisasi

    Model desain organisasi atau struktur organisasi adalah mekanisme-mekanisme formal pengelolaan suatu organisasi yang menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Disain mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi, desentralisasi dalam pembuatan keputu¬san dan besaran satuan kerja.

Pada penerapannya, model desain orgranisasi terdiri dari 2 model, yaitu Desain organisasi Mekanistik dan Desain organisasi orgranik.

A. Desain Organisasi Mekanistik.
B. Desain Orgranisasi Orgranik.


Kesimpulan

 Kesimpulan nya Sebuah struktur dan desain yang efektif harus mampu mengoptimalkan kinerja baik organisasi maupun anggotanya. Hal ini bertujuan untuk tercapai apabila ada penataan tugas, aktivitas kerja dan individunya menurut cara-cara tertentu agar tujuan tercapai. Sebuah struktur dan desain yang efektif harus mampu menggunakan tipe dan jumlah dengan untuk mencapai tujuan

Kesimpulan Materi Kelompok 4 (Perubahan dan Pengembangan organisasi)

Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2

Disusun Oleh :
1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)
 
I.                   Faktor – Faktor Perubahan Organisasi
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan berasal dari dalam maupun dari luar organisasi.
  • Faktor internal : tujuan,strategi dan kebijakan organisasi, kegiatan, dan teknologi yang digunakan. Faktor-faktor intern yang mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi antara lain :
  • Faktor eksternal : politik, pendidikan, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan teknologi. Lingkungan ekstern adalah keseluruhan faktor yang ada di luar organisasi yang mempengaruhi organisasi dan kegiatan organisasi. Lingkungan ekstern tidak hanya mempengaruhi organisasi tertentu, tetapi juga terhadap semua organisasi yang ada di masyarakat. Faktor – faktor yang termasuk dalam lingkungan ekstern cukup banyak, di antaranya adalah :
II.                Perubahan Sikap organisasi dalam menghadapi terjadinya perubahan lingkungan intern/ ekstern, yaitu :
  1. Mengadakan perubahan struktur organisasi.
  2. Mengubah sikap & perilaku pegawai.
  3. Mengubah tata aliran kerja.
  4. Mengubah peralatan kerja.
  5. Mengubah prosedure kerja.
  6. Mengadakan perubahan dalam hubungan kerja antar personel.
III.             Proses Perubahan
Perubahan Organisasi merupakan modifikasi substantif pada beberapa bagian organisasi. Perubahan itu dapat melibatkan hampir semua aspek dari organisasi, seperti jadwal pekerjaan, dasar untuk departementalisasi, rentang manajemen, mesin-mesin, rancangan organisasi, dan sebagainya.
Proses perubahan, yaitu:
  1. Mengadakan pengkajian.
  2. Mengadakan identifikasi.
  3. Menetapkan perubahan.
  4. Menentukan strategi.
  5. Melakukan evaluasi.
Dorongan untuk Berubah
Alasan mendasar organisasi memerlukan perubahan adalah karena sesuatu yang relevan bagi organisasi telah berubah, atau akan berubah. Oleh sebab itu, organisasi tidak punya pilihan lain kecuali berubah juga. Perubahan ini terjadi karena adanya dorongan untuk berubah, yang berasal dari:
  1. Dorongan Eksternal
  2. Dorongan Internal

Dua Jenis Perubahan
Secara umum ada dua jenis perubahan dalam organisasi.
  1. Perubahan Terencana
Perubahan terencana adalah perubahan yang dirancang dan diimplementasikan secara berurutan dan tepat waktu sebagai antisipasi dari peristiwa di masa mendatang.
  1. Perubahan Reaktif
Perubahan reaktif adalah suatu respon bertahap terhadap peristiwa ketika muncul.

IV.              Pengembangan Organisasi
Ciri-ciri Pengembangan Organisasi
Pengembangan organisasi yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Merupakan strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat dan akurat tentang permasalahan yang dihadapi oleh suatu organisasi.
  2. Merupakan kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan yang akan terjadi terhadap suatu organisasi.
  3. Menekankan cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh organisasi dan semua satuan kerja dalam organisasi.
  4. Mengandung nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting.
  5. Menggunakan pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi, interaksi dan interdependensi antara organisasi sau dengan organisasi yang lainnya.
  6. Berbagai satuan kerja sebagai bagian integral di suasana yang utuh.
  7. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.
Kesimpulan
 
            Jika diamati dengan seksama, maka Organisasi memiliki perubahan serta perkembangan yang ada dikarenakan oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhinya. Faktor – faktor tersebut dapat mendukung majunya organisasi tersebut, namun juga dapat menjatuhkan organisasi yang sedang berjalan. Hal yang terpenting untuk dihindari adalah perencanaan yang matang didalam menghadapi perkembangan dan perubahan dari organisasi tersebut, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal

Jumat, Maret 13, 2015

Contoh Kasus Kelompok 1 (Pengambilan keputusan dalam organisasi)



Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2










Disusun Oleh :

1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)



 
Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

 
Contoh pengambilan keputusan dalam organisasi :

DPR yang masih ragu dalam pengambilan keputusan menaikkan tarif listrik 10%. Ini di karenakan bentroknya pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah yang ingin tarif di naikkan, dan masyarakatnyanya yang tidak setuju. Mungkin bagi pemerintah memaksa ingin menaikkan tarif 10% hanya hal biasa saja, tetapi bagi masyarakat apalagi yang tidak mampu ini adalah hal yg berat. Akibatnya pihak DPR pun belum mengambil keputusan apapun untuk menaikkan atau tidak

sumber

http://www.academia.edu/5570633/Contoh_Pengambilan_Keputusan_1

Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2 week 2



Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2










Disusun Oleh :

1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)



 
Bekerjasama dalam Team (Kelompok)

Contoh Team Work dalam kegiatan sehari-hari


Menurut saya contoh team work dalam kehidupan sehari-hari bisa berupa suatu organisasi didalam perkuliahan seperti BEM di UNIVERSITAS A, karena untuk mencapai misi dan visi bersama. Apabila dalam BEM tersebut tidak dilakukan dengan kerja sama maka misi dan visi tidak akan berjalan sesuai rencana.

Selain kegiatan BEM saya juga mengambil contoh  kerja sama tim atau Team Work  dalam pemasangan rel kereta api, berserta bantalan relnya, pemasangan rel kereta api berserta bantalan relnya harus mengunakan kerja sama tim atau Team Work karena  apabila hal tersebut dikerjakan sendirian atau secara individual maka yang akan terjadi adalah rel tersebut tidak akan terpasang dengan baik, letak rel akan kacau bahkan akan menimbulkan kesalahan dan banyak menimbulkan musibah. Bukan hanya itu pemasangan rel kereta api berserta bantalan relnya jika dikerjakan secara kerja sama tim atau Team work  yang diuntungkan adalah efisiensi waktu.

Kita tahu pada saat zaman penjajahan belanda dulu, kita sering mendengar kata  kerja rodi atau kerja paksa jaman Belanda, para pribumi disuruh berkerja sama untuk membuat kontruksi jalan dan rel kereta api contohnya Jalan Anyer hingga Panarukan dikerjakan dengan cara kerja tim atau Team Work, pada zaman penjajahan Jepang kita sering mengenal romusha  atau kerja paksa jaman Jepang. Dan hal itu dikerjakan secara Team Work dan bersama-sama untuk mempercepat pengerjaannya.

Pemasangan Rel kereta api berserta bantalan relnya itu dikerjakan dengan kerja sama tim atau Team Work, setiap tim memiliki anggota masing-masing dalam melaksanakan perkerjaannya , tim pertama bisa jadi bertugas sebagai penyediakan perlengkapan mulai dari bantalan rel dll. Tim kedua berusaha berkerja sama dalam hal meninggikan jalan atau rel tersebut dengan batu atau kerikil-kerikil, dan tim ketiga  berkerja sama  untuk  penyambung rel berserta bantalannya,dan ada pula tim teknisi yang bertugas untuk mengatur rel, mngatur jarak rel dan mengatur agar tak akan terjadi tabrakan pada kereta api yang satu dengan kereta api yang lainnya.

Maka dari itu sudah seharusnya setiap pembuatan rel kereta api dan pembuatan jalan raya harus dikerjakan dengan cara kerja sama tim atau Team Work, agar dapat mempermudah perkerjaan, dapat menghemat watu dan yang paling penting adalah setiap tim akan lebih memiliki tanggung jawabnya masing-masing dan setiap tim  tersebut sudah dianggap  tim ahli yang memiliki keahliaan masing-masing dibidangnya, sehingga akan mengurangi terjadinya kesalahan dalam proses pembuatan rel kereta api di Jakarta ini.

Contoh kasus Kelompok 6 (Komunikasi)



Tugas Individu Teori Organisasi Umum 2










Disusun Oleh :

1. Nicki Fatima Novayanti                                 (16113412)



 
KESALAHAN BERKOMUNIKASI PADA RAPAT PEMUDA KARANG TARUNA



1. Contoh Kasus

 Gagalnya Komunikasi Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak bisa terlepas dari komunikasi. Komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua individu atau lebih yang bertujuan untuk memberi dan menerima informasi.

 Komunikasi dapat dilakukan dengan lisan maupun isyarat. Namun, seringkali komunikasi dapat mengakibatkan konflik antara individu maupun kelompok yang  bersangkutan. Sebagai contoh kesalahan komunikasi dalam organisasi pemuda desa atau sering disebut organisasi Karang Taruna.

Organisasi yang beranggotakan pemuda ini, sering mengadakan rapat rutin untuk membahas rencana-rencana maupun membahas suatu kegiatan yang dilakukan maupun yang akan dilakukan. Rapat rutin yang biasa diadakan setiap bulan sekali, pastilah ada komunikasi didalamnya saat rapat tiba. Pembahasan-pembahasan atau  pendapat dari seseorang tertentu harus benar-benar diperhatikan.

Tak sedikit yang bisa kita  jumpai, konflik-konflik yang menimpa anggota karang taruna hanya diakibatkan dari komunikasi yang belum tertata dengan baik dan kesalahpahaman dalam menerima informasi. Didalam rapat rutin karang taruna, membahas juga beberapa masalah dalam lingkungan yang harus diselesaikan.

Seorang ketua karang taruna akan menginformasikan masalah-masalah atau bahan pembahasan dalam rapat itu dan membutuhkan tanggapan atau  pendapat dari anggota. Tak jarang komunikasi untuk berpendapat maupun menerima  pendapat menimbulkan masalah tersendiri dikalangan antar individu maupun dengan anggota-anggota yang lainnya. Ada beberapa kata atau kalimat yang sering diucapkan namun terkesan memaksa. Jadi anggota yang lainnya merasa ada sebuah keterpaksaan yang harus dilaksanakan.

 Misalkan dalam bahasa jawa seseorang sering berkata “pokok’e” atau “pokoknya”. Kata-kata itu kesannya memaksakan kehendak, dan mengakibatkan anggota yang lain tidak enak untuk mendengarkan pembicaraannya yang lain. Bila seseorang tidak  bisa menerima pendapat yang juga kurang bisa dikemas dengan baik itu, maka orang itu juga akan merespon tanggapan itu dengan nada-nada yang tidak enak didengar.

 Seringkali  pembicaraan jadi sangat memanas saat anggota lain menanggapinya dengan emosi. Namun, ketika hal itu terjadi akan ada peringatan dari anggota yang lainnya yang mungkin bisa diredakan. Ada juga seseorang yang karena emosinya terlalu tinggi dan menciptakan komunikasi atau pembicaraan yang tidak pantas untuk diucapkan, ia akan dibawa teman-temannya kuluar dari rapat. Bisa juga orang itu yang malah langsung meninggalkan rapat dengan meninggalkan kata-katanya yang mengandung emosi tinggi.
 
Konflik komunikasi tersebut tidak hanya akan terjadi selama rapat, namun akan  berturut-turut bermasalah dengan lawan bicara dalam rapat tersebut. Entah beberapa hari, minggu, maupun hitungan bulan. Mereka akan saling diam, tidak melihat dan menganggap tidak ada seseorang yang berkonflik dengan orang itu dengan memasang muka wajah yang sengit. Bila tidak ada pihak yang mengalah, maka tidak ada perdamaian didalamnya. Itulah masalah akibat berkomunikasi yang kurang efektif dan kesalahpahaman yang sering dialami oleh rapat rutin karang taruna yang seharusnya bertujuan bermusyawarah untuk mencapai mufakat.





 2.Analisa Kasus

 Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kesalahan dalam berkomunikasi baik mengemukakan pendapat maupun menerima pendapat. Beberapa analisa yang dapat diambil yaitu :

1. Perbedaan pendirian dan perasaan antar individu Setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terhadap suatu hal dalam lingkungan dapat menimbulkan konflik sosial.

 2. Perbedaan latar belakang setiap individu Latar belakang setiap individu berbeda-beda. Ada yang hidup dalam keluarga miskin maupun kaya. Ada yang hidup dalam keluarga berpendidikan, dan lain sebagainya. Latar  belakang itulah yang dapat membawakan perasaan yang memicu konflik.

3. Perbedaan sifat dan watak Sifat dan watak memang bawaan dari kelahiran seseorang dan berbeda-beda dengan individu yang lain. Itu tidak bisa diubah, namun bisa disikapi dengan baik, agar tidak menimbulkan konflik.

4. Mengemukakan pendapat yang kurang bisa dikemas dengan komunikasi yang baik Komunikasi yang kurang dikemas dengan baik dan belum tertata, dapat memicu konflik yang bermula dari kesalahpahaman saja.

5. Kurangnya pengetahuan Kurangnya pengetahuan akan topik bahasan maupun pengetahuan tentang berkomunikasi dengan baik, dapat menimbulkan salah paham dan konflik bila tidak berhati-hati dengan apa yang diucapkan dan menangkap informasi yang kurang jelas.

 6. Menanggapi tanggapan yang disertai emosi atau kontrol emosi yang kurang baik Kontrol emosi sangat penting dalam musyawarah, apalagi dalam menghadapi banyak orang. Tidak setiap orang mudah mengontrol emosinya. Suatu tanggapan yang disertai emosi inilah yang dapat memicu banyak konflik.


 3. Solusi Yang Dapat Diberikan


 Banyak solusi yang bisa diberikan dari kegagalan berkomunikasi dalam rapat atau musyawarah ini. Baik saat konflik terjadi langsung bisa diselesaikan, maupun dengan tahapan-tahapan.

1. Menciptakan suasana kondusif dan santai dalam musyawarah. Tidak ada ketegangan suasana dan sedikit menciptakan suasana lucu atau lelucon. Hal ini akan membawa keyamanan disetiap anggotanya dan akan santai mengikuti musyawah dengan baik.
 
2. Tidak memaksakan kehendak dikalangan individu. Mampu menghargai dan menerima  pendapat orang lain, yang kemudian akan dipertimbangkan bersama-sama dalam musyawarah tersebut untuk mencapai hasil yang terbaik.

3. Memiliki sikap perhatian antar individu. Bisa mengerti perasaan orang lain, misalkan “jika aku menjadi dia dan jika dia menjadi aku”. Saling menyadari perbedaan perasaan satu
sama lain.

 4. Mengerti sifat dan watak orang lain, agar kita mampu menyikapinya dengan baik.

5. Mampu mengontrol emosi dengan baik. Sabar dalam menerima pendapat yang mungkin kurang berkenan. Menanggapi dengan emosi tidak menyelesaikan masalah, namun hanya akan menimbulkan masalah lagi.

 6. Memperjelas dan mempertegas suatu informasi yang mungkin kurang bisa dipahami oleh anggota yang lainnya. Sedapat mungkin dijelaskan dengan baik, sabar, dan meyakinkan individu yang lain.

 7. Jika ada konflik antar individu didalamnya dapat diselesaikan dengan pihak ketiga, atau  bantuan dari teman-teman anggota. Dapat mengadakan forum kembali untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada pada anggotanya.

8. Memotivasi orang lain dengan dorongan-dorongan yang akan menguatkan dia saat menghadapi masalah dengan lawan bicara.

Sumber